Cerita Anak Bangsa - DIAH PUJI "KISAH SEBUAH NIAT MULIA"

Posted by Unknown Sunday, 5 May 2013 0 comments



Diah Puji, Aku ingin orang tuaku bahagia





“Ini Puji … Dia anak yang bersemangat… tuliskan kisahnya ya…” kata Bunda padaku


“He he he… “ jawabku sambil tertawa nyengir


“Rumahmu dimana dek?” tanyaku


“Dekat SMP situ Mbak… tempat tambal ban…” jawabnya pelan


“O… sebelah mananya?” tanyaku polos


“Ya disitu…” jawab Diah sambil tersenyum


“Udah siap ujian dan lulus dengan nilai bagus?” tanyaku


“Emmmmm… ya kak, sementara ini aku mau lulus dengan nilai bagus kak, supaya bisa melanjutkan sekolah yang baik dan tinggi..


“TOP!” jawabku sambil mengacungkan jempolku


“Ya Kak… Ayahku hanya seorang tukang tambal ban, aku ingin sekali bisa menjadi apoteker dan orang sukses, membahagiakan orang tuaku, membawa mereka naik haji, kira-kira bisa nggak ya kak?” katanya dengan wajah polos”


“Hemmmmm… bisalah! Banyak kok kisah orang sukses yang diawali dengan susah payah… sekarang bantu saja orang tuamu dengan pekerjaan-pekerjaan sederhana…” jawabku


“Iya Kak… aku selalu berusaha rajin bantu mereka kok.. walaupun aku belum pernah menghasilkan uang, namun aku selalu berusaha untuk membuat orang tuaku bahagia…” jawabnya

Bel masuk telah mulai ketika Diah mengakhiri kalimatnya. Anak-anak ini… ucapannya membuatku terharu. Di antara tingkah laku polos mereka, tersimpan kerinduan, keinginan sederhana namun sangat jarang kutemukan di dunia “orang dewasa”, yaitu… membahagiakan orang tua 

Kadang ketika kita menjadi dewasa, kita lebih mengutamakan pasangan kita ketimbang orangtua kita, orangtua hanya kita jadikan tempat kita menangis, bukan bersenang, orangtua biasanya hanya kita jadikan tempat untuk melepas lelah, bukan tempat untuk memanjakannya seperti mereka telah memanjakan kita sewaktu kita kecil dahulu,...

Wah…







Pelajaran berharga yang kudapat hari ini adalah :
Sebuah Niat Mulia untuk membahagiakan orangtua
***

With love,
cerita kami team’


Baca Selengkapnya ....

EYANG KAMPRET : DUKUN CENDIKIAWAN YANG DOYAN KAWIN

Posted by Unknown Wednesday, 1 May 2013 0 comments
sumber gambar : DISINI




Seseorang dielukan begitu terhormat, sampai ketika meninggalpun, bukan hanya satu, dua atau puluhan orang yang menangisi kepergiannya, namun berjuta orang menangisi dan mendoakannya, sedangkan dilain pihak seorang lainnya dicibir penuh kehinaan, beristri banyak, berprofesi sebagai paranormal alias dukun, hidup dalam kemewahan, dalam kemabukan dan pesta pora. Apakah yang membuat semua hal itu dapat terjadi? Tentu saja dari sikap dan juga perbuatan yang mereka lakukan.



Ada pepatah mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,sedangkan manusia mati meninggalkan kebaikan karena perbuatannya semasa hidup.



Hidup hanya sekali, maka kita perlu bijak untuk menjadi seperti apakah kita seharusnya.Inginkah kita dikenang orang karena kebaikan, atau dikenal orang karena kelaliman?



Kita tak bisa terus menerus mengandalkan dan memanjakan hawa nafsu duniawi kita, karena hidup di dunia hanyalah sementara, dan kita tak pernah tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada perjalanan hidup kita. Semuanya seperti misteri. Dalam kehidupan, manusia mempunyai takdir dan nasib. Takdir Tuhan yang menentukan sedangkan nasib, manusia yang merealisasikannya.



Belakangan ini, banyak sekali pemberitaan yang mengulas secara terus menerus akan sesosok pria tua, yang sudah sepuh, namun masih sangat berjiwa muda. Selain dari beristri banyak, beliau juga dianggap sebagai seorang pria yang melaksannakan ajaran sesat. Banyak rekan yang menjadi lawan, banyak kebobrokan yang diceritakan, walaupun tentunya kita tidak tahu kebenarannya. Sebut saja namanya Eyang kampret.Eyang yang tentunya sudah tua ini, menjadi pemberitaan hangat dibanyak media, baik elektronik maupun cetak.



Yang jadi pertanyaan, apakah benar beliau sesat, dan apakah benar beliau sakti? Jika ya sesat, tentunya pada akhirnya nanti akan ketahuan juga karena serapat apapun menutupi bangkai, pasti akan tercium juga.



Yang kedua, apakah benar beliau sakti? Sakti mandraguna, dan punya banyak “piaraan”, yang akan selalu menjaganya?



Sebagai seorang beriman, tentunya kita harus tegas mengatakan “TIDAK!”. Beliau bukanlah orang sakti seperti yang digembar-gemborkan banyak orang. Bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa melakukan kesaktian apapun bisa menjadi eyang dukun? Eyang kampret?



Bagaimana mungkin orang yang sakti, namun hidupnya penuh dengan keglamoran? Bukankah seperti banyak divisualisasikan, diimajinasikan, bahwa orang – orang sakti tinggalnya dihutan atau digunung?

Jika kita tidak mendengarkan cerita orang mengenai bagaimana orang-orang sakti tinggal dan bersosialisasi, mari kita gunakan logika kita saja tentang bagaimana kehidupan mereka menurut penilaian kita?



Menurut hemat saya, Eyang kampret seperti ini tidaklah sakti, dan tidak bisa ngapa-ngapain. Mengapa begitu? Karena dengan kesaktiannya kenapa beliau tidak bisa membungkam semua rivalnya yang berteriak lantang menentangnya sekarang?



Mengapa beliau tidak membungkam semua rival yang dengan gamblang bicara dengan amat keras di media yang ditujukan kepada dirinya ?



Mengapa si eyang kampret ini diam seribu bahasa?



Karena memang, tentunya eyang ini tidak punya kesaktian apapun juga. Eyang kampret ini tidak punya piaraan apa – apa (makhluk halus). Eyang ini hanya orang yang pandai melihat celah untuk bisa memperkaya dirinya dengan bertingkah seolah – olah sakti, dan punya bisikan dari eyang gaib, namun sebenrnya tidak sama sekali. Seorang penipu akan terus menipu dan tak akan berhenti sampai ketahuan, untuk itu yang namanya eyang kampret ini tentu akan terus merealisasikan aktivitasnya sampai korban-korbannya menjadi sadar kalau selama ini mereka sedang ditipu mentah-mentah.



Jika orang marah kepadanya karena telah merasa dirugikan untuk sesuatu yang tidak bisa dibuktikan melalui jalur hukum, lalu usaha apa yang dapat kita lakukan? Tentu saja tidak ada.



Karena eyang kampret ini memang seyogyanya tidak melakukan apapun, karena beliau tidak sakti dan tidak mampu.Maka menurut hemat saya selanjutnya, jika kita hendak mengatakan dirinya sesat adalah bukan karena sesat ajaran agamanya, namun karena kemaksiatan dalam hidupnya melebihi rasa taqwa yang dimilikinya.Hal itulah yang perlu kita luruskan sehingga seoang manusia yang tersesat bisa kembali ke jalan yang benar.



Namun sekali lagi perlu dipertegas secara jelas, apakah beliau memang sakti atau berlagak sakti? Sekali lagi jawabannya adalah tidak, karena memang eyang kampret itu tidak sakti.



Tinggalkanlah saja si eyang karena dengan begitu, niscaya, dengan sendirinya beliau akan menjadi miskin dan melarat, karena tidak ada lagi yang menyumbangkan uangnya dengan Cuma-Cuma untuk semua kebohongan yang eyang ini berikan kepada para pasiennya.



Sungguh amat menyedihkan, semakin tua seharusnya semakin bijak, karena tentunya masa hidup seseorang yang sudah berusia lanjut akan lebih sedikit daripada orang muda. Namun itulah manusia, yang kadang lebih mendewakan hawa nafsu duniawinya ketimbang menahan diri dan hidup dalam kebersihan secara rohani.



Sungguh, sejak masalah ini diberitakan dengan begitu hangatnya, saya sama sekali tidak menganggap bahwa eyang kampret ini adalah orang sakti.Jika eyang ini memang benar sakti, tentnya rivalnya, sudah mati dan hilang dari muka bumi ini karena kesaktian eyang tersebut. Namun ada kesaktian eyang ini yang harus saya akui,…yaitu,…UANG!. Dengan uanglah maka eyang kampret ini bisa menyewa pengacara yang bisa mewakili setiap omongan yang hendak disampaikannya dimuka publik. Tidak menyuruh pasukan jinnya untuk menggempur musuh-musuhnya, namun memerintah para pengacaranya sebagai pembela yang akan terus mendampinginya menghadapi musuh-musuh yang mengintainya.



Jika anda jeli dalam mengamati pemberitaan ini, maka anda akan bisa menganalisa, bahwa eyang kampret ini, dari negeri antah berantah, memang hanya seorang eyang tua yang suka wanita, suka maksiat dan suka pesta pora, tak lebih, itu saja.



By smile







Baca Selengkapnya ....

Cerita Anak Bangsa - Abdul Wahid Anwar Saputro "KISAH SEBUAH KETULUSAN"

Posted by Unknown Saturday, 30 March 2013 0 comments


Pelajaran berharga yang kudapat hari ini adalah : Sebuah ketulusan pengabdian pada orang tua…

***
“Halo Kak… “ salam Wahid kepadaku.
Aku menyukai anak ini. Kulitnya hitam terpapar sinar matahari, rambutnya cokelat, dengan mata yang penuh semangat, dan senyum yang hangat.

“Abdul Wahid Anwar Saputro… wah keren ya namamu.. he he he…” celetukku sambil tertawa
Dan Wahidpun tersenyum lebar seperti biasa.


Wahid, kelas IX A siswa SMP Negeri 12 Semarang, dia tinggal dengan keluarganya di Jalan Karangrejo daerah Banyumanik



“Kata Bunda kamu tuh’ anak yang cakeeeeeppppp dan rajinnnnnn buanget ya hid?” tanyaku

"Ah, Kakak bisa aja,....."Sahut Wahid lirih.


"Ayahmu kerja apaan toh Hid?" tanyaku penasaran.

“Jangan kaget ya kak,... Ayahku hanya seorang buruh, dan ibuku cuma ibu rumah tangga biasa. Aku setiap hari membantu orang tua berdagang gorengan, mengantar ke para pemesan, belanja barang di pasar, dan juga guru les pelajaran kelas I – IV SD setiap malam kak…” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Wah sibuk banget! Itu belum termasuk kerjaan rumah Hid?” tanyaku kagum
“Iya kak… contohnya nih sehabis mengantar gorengan ke ‘angkringan’ ke tempat penjual nasi kucing, lalu nyuci baju punya sekeluarga” jawab Wahid


“Wah! Hebat!!”jawabku

“Itu belum lagi kalau orang tuaku  pergi Kak.. Aku harus mampu menggantikan peran mereka di keluarga, mengurus adik, mengatur mereka semua, juga mengarahkan mereka dalam membantuku untuk membersihkan rumah, dan juga menyelesaikan tugas rumah lainnya.  Selain itu juga mengurus keuangan sekaligus membuat gorengan lalu diantarkan untuk dijual… he he he…” cerita Wahid panjang lebar dengan mata bersinar-sinar. 

Dia terlihat sangat bangga dengan semua yang dilakukannya


Aku menepuk-nepuk pundaknya sambil berkata, “Keren tuh Hid… kamu kalau sudah besar nanti pasti jadi orang yang sukses, ya!!!”

“Iya harus itu kak! Aku bercita-cita ingin menjadi arsitek dan juga pengusaha yang terkenal.


Kulihat  semangatnya begitu besar untuk bersekolah, dan belajar, selain daripada kesalehannya yang tak lepas dari doa…



“Doain terkabul ya Kak!” lanjutnya sambil mengambil tanganku dan ditempelkan ke dahinya

“Ha ha ha ha… apaan sih Hid? Aku doain kamu nakkkk….” Jawabku sambil tertawa


“Serius nih kak! Aku mau jadi orang sukses dan bisa membantu orang tuaku dan banyak orang lainnya lagi… “



Aku menatap punggungnya yang berlari menjauh, rasa bangga pada apa yang bisa dibantunya bagi orang tua dan keluarganya seolah tertinggal di benakku.

Aku kembali belajar pada kesederhanaan kecil namun berarti dan sudah sering terlupakan olehku.


Pelajaran berharga yang kudapat hari ini adalah :

Sebuah ketulusan pengabdian pada orang tua…
***

With love,
cerita kami team’

SUMBER : DISINI

Baca Selengkapnya ....

Cerita Anak Bangsa - Tsabit Dieni Nur H "SEBUAH SEMANGAT JUANG"

Posted by Unknown 0 comments
Aku menatapnya senang, pancaran semangatnya begitu kuat, aku rasa kalau semangatnya terus begini, dia pasti akan sampai pada mimpinya di suatu saat nanti!


***


“Kakaaaaaakkkk…” seorang gadis berlari ke arahku
“Hei mana pesananku… katanya mau bawa es susu untukku…” seruku

“Besok ya kak… aku udah beberapa hari ini nggak bawa es susu lagi…” jawabnya dengan wajah murung.
“Lho kenapa?”

“Diejek teman-temanku kak… ?” lapornya.
“Diejek gimana?” tanyaku.

“Katanya aku jualan untuk cari perhatian bapak dan ibu guru… padahal kan ga gitu kak..” jawabnya.
“Ha ha ha.. iyalah… kamu jualan kan untuk bantu orang tua, begitu kan?” kataku sambil mengelus – ngelus kepalanya.


Tsabit Dieni Nur H namanya, siswi kelas VIIIB. Ayahnya berdagang susu sapi di suatu kios di daerah Telogosari Semarang, sedangkan ibunya berjualan keliling es susu. Tsabit, adalah seorang gadis santun, dan juga  bersemangat.


“Ya kak… akhirnya aku putuskan untuk kembali berjualan untuk meringankan beban orang tua dan tidak mempedulikan yang orang lain katakan. Aku harus jadi orang yang mandiri dan sukses kak!” sahut Tsabit.
“Nah gitu dong…… anak cantik itu harus semangat! Uang dari jualan es susu mau buat apa nih dalam waktu dekat?” tanyaku.


“Mau buat beli tas kak… nih…. Retsletingnya udah rusak.. . aku ga mau menyusahkan orang tua lagi, dan bisa membeli barang yang kuinginkan sendiri” jawabnya sambil memperlihatkan tasnya.
“Mantap! Kalau kamu tekun, suatu saat nanti bisa punya perusahaan sendiri…”


“Ya pasti kak! Aku ingin punya perusahaan PT. Es Susu… terus jadi orang yang pintar tentang teknik computer, lalu kumpulin uang supaya bisa mengantar orang tua naik haji” jawabnya sambil tersenyum lebar dan mata berbinar cerah.
“Ya, tapi belajar untuk kuatnya harus dimulai dari sekarang… ya sayang..” jawabku sambil memegang pundaknya.


“Ya kak! Aku harus tahan menghadapi orang-orang yang suka menghina, dan punya mental yang kuat, supaya bisa sukses nanti!!”.
Aku menatapnya senang, pancaran semangatnya begitu kuat, aku rasa kalau semangatnya terus begini, dia pasti akan sampai pada mimpinya di suatu saat nanti!


Pelajaran berharga yang kudapat hari ini adalah : 
Sebuah Semangat juang yang tinggi dari  kehidupan seorang gadis cilik, yang memotivasi aku, dan mungkin  juga banyak orang untuk tetap survive dalam menghadapi apapun dalam kehidupan, karena setiap masalah pasti mempunyai jalan keluar.
***

With love,
Cerita Kami Team’

SUMBER : DISINI

Baca Selengkapnya ....

Cerita Anak Bangsa - Ermina Wati "BANGGA MENJADI DIRI SENDIRI"

Posted by Unknown Wednesday, 27 March 2013 0 comments


“Banggalah menjadi diri sendiri, dan janganlah mengeluh akan hidupmu..."
 
                                                ***


Satu sosok mungil mendekatiku, rambut kucir ekor kuda, dan senyum sederhana khas anak-anak, membuatku langsung melingkarkan tanganku ke pundaknya, “Gimana kabarmu? Katanya barusan jadi juara… wahhhhh kerennnn….” Sapaku..
 

Ermina Wati namanya, si sosok mungil ini adalah siswi kelas 7 G, dan tinggal di jalan Pramuka Pudak Payung Semarang. Ibuku pernah bercerita kepadaku kalau Emina Wati ini hebat karena meskipun orang tuanya bekerja sebagai buruh tapi dia selalu berjuang keras untuk jadi juara lomba yang diikutinya.
 

“Lomba apa aja sih yang udah pernah kamu menangkan dek?” tanyaku
“Waktu SD sih banyak kak… lomba pesta siaga hingga tingkat provinsi Jawa Tengah, pidato kotbah dapat juara III tingkat Kota Semarang, Geguritan, Puisi, dan juga lomba siswa berprestasi. Tapi waktu SMP ini aku menjuarai pidato bahasa Jawa tingkat Kota Semarang dan dapat juara III”
 

“Hebat… hebat… hebat… kakak salut nih sama kamu…” kataku sambil mengacungkan jempolku.
“Wah kakak ini ada-ada aja… tanggal 6 April ini aku akan ikut lomba kotbah juga lho kak… “ lanjut Ermina.
 

“Wah beneran bikin bangga sekolah dan orang tuamu dong…” jawabku.
“Aku senang sekali Kak, bisa mengikuti berbagai lomba , baik akademik maupun non akademik, karena bisa mengharumkan nama sekolah dan orang tua. Walaupun aku ini hidup dalam kekurangan, tapi aku bangga menjadi diriku sendiri karena orang  sepertiku bisa berprestasi…” kata Ermina lagi.


Aku bengong mendengar jawabannya, begitu dewasa bahasanya.
 
“Boleh tahu cita-citamu sayang?” tanyaku
“Aku ingin menjadi pegawai Bank, dan mencari uang yang banyak untuk bisa membawa keluargaku mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW, terus… aku juga ingin berkeliling dunia, supaya bisa melihat kebesaran Allah atas ciptaannya yang sangat luar biasa indahnya… bareng ya kak…  he he…”Jelasnya sambil tertawa


Masih ada yang menyentak dari perkataannya tadi kalau dia bangga menjadi dirinya sendiri karena menjadi “orang biasa“ yang berprestasi…


Wah! Perkataan seorang anak sederhana ini bagaikan ucapan seorang motivator hebat yang pernah kudengar. Lanjutkan perjuanganmu sayang… semoga semakin banyak orang sederhana namun berprestasi di bangsa ini seperti kamu, tanpa mengenal kata “MENGELUH”.


Pelajaran berharga yang kudapat hari ini adalah : Banggalah menjadi diri sendiri, dan janganlah mengeluh akan hidupmu, syukurilah itu sebagai suatu nikmat yang luarbiasa dari Tuhan Yang Maha Kuasa”.




With Love,
Kisah kami team'

SUMBER : DISINI


Baca Selengkapnya ....

JURI SONTOLOYO ( PEMENANGNYA JUGA SONTOLOYO )

Posted by Unknown Saturday, 15 December 2012 0 comments

Lomba, adalah sebuah ajang kompetisi dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling beradu kemampuan dalam segala bidang. Namun apa mau dikata, jika ajang suatu kompetisi dipimpin oleh juri juri yang tidak berkompeten, dan tidak adil dalam memberikan penilaian. Ada pula juri yang bergelar akademisi dengan tingkat sarjana bahkan sampai master, tidak menunjukkan sama sekali pendidikannya sesuai dengan gelar yang diembannya. Mereka kadang tidak berpikir jernih dan sangat tidak profesional.

Erapkali perasaan dan emosi dalam penilaian turut dijadikan suatu acuan dalam memberikan suatu penilaian. Banyak lomba, ajang, di tanah air yang dilakukan tidak dengan fair. Dan lagi – lagi, semuanya masih berbau “ketidakadilan” bahkan manipulasi karena suatu “rasa” yang seharusnya tidak dilakukan dalam hal penjurian. Mendapat cemooh sangatlah ditakutkan bagi seorang juri yang tidak profesional. Mereka juga kadang telah menerima “memo”. Memo kesepahaman, bahkan memo titipan untuk memenangkan seorang peserta dari peserta lainnya.

Yang patut dibanggakan adalah ajang Indonesian Idol, yang juri-jurinya bukan lah para juri karbitan yang mudah simpati, dan kemudian merasakan empati, lalu memilih dan menilai peserta tanpa penilaian yang obyketif. Berbeda dengan ajang lainnya yang terkenal dengan ajang pencarian bakat. Mengkritik sepertinya merupakan suatu ketabuan dalam ajang tersebut, demi menjaga perasaan peserta, terkecuali seorang juri yang berpredikat master dalam bidang sulap aliran Mentalist. Tanpa memikirkan efek dari tindakan mereka, peserta yang muncul tentunya akan menjadi bintang dan pemenang karbitan. Mereka tidak akan bertahan dalam industri apapun karena menang secara tidak wajar, dan hanya karena belas kasihan semata.

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan sebuah lomba pidato berbahasa Inggris, yang diadakan sebuah sekolah dasar swasta. Konsentrasi saya tepaku dengan seorang murid laki laki dari Sekolah Dasar yang berpidato sambil menangis karena isi pidatonya mengharuskannya demikian. Dan anehnya lagi, setelah menangis, si murid laki laki tersebut bisa tertawa riang. Sungguh menjijikan dan juga mengenaskan!!!

Apa yang salah jika berpidato dengan menangis?
Sang guru yang menemani beberapa murid andalannya yang hendak mengikuti perlombaan tersebut dengan bangga mengatakan, bagus, menangis itu bagus, dan bisa mengusik hati para juri. Benarkah demikian?

TENTU SAJA SALAH !!!
 

Dan hanya guru sontoloyo yang mengajarkan muridnya berpidato sambil bersandiwara dengan linangan air mata palsu. Sedih, dan miris, ketika menyaksikan murid yang melakukan tindakan demikian justru memenangkan lomba tersebut. Mereka akan jadi generasi penerus bangsa yang penuh dengan kemunafikan. Mereka telah dilatih untuk pandai bersandiwara, menangis kemudian tertawa. Ingat, mereka masih bau kencur, masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sungguh miris, dan sangat mengenaskan. Saya sedih, menyaksikan dengan mata kepala sendiri guru yang mendidik muridnya sedari dini untuk pandai bersandiwara dan munafik. Bayangkan, mereka hanya anak-anak sekolah dasar yang pada hakikatnya belum bisa sepemikiran dengan pemikiran manusia munafik yang rela mengejar prestasi dengan cara yang tidak terpuji.

Bagaimana dapat dikatakan tidak terpuji? Si murid tersebut dikondisikan untuk melakukan suatu sandiwara dengan berpura-pura sedih ketika berpidato. Jika benar mereka terenyuh karena pidato mereka sendiri, saya akan angkat empat jempol untuk memuji mereka. Namun saya berani menyakinkan semua pembaca, bahwa mereka tidak benar-benar terenyuh dengan pidato yang mereka bacakan dihadapan para tamu yang hadir. Mereka hanya melaksanakan tugas yang semata diembankan kepundak mereka oleh guru-guru yang merasa dirinya pandai namun ternyata bodoh sama sekali.

Yang tidak kalah miris adalah para jurinya yang justru memenangkan peserta seperti itu. Gelar mereka bahkan ada yang sampai master, namun menilai sekelas tukang bakso. Sungguh menyedihkan. Bagaimana pendidikan di Indonesia akan maju, jika perbuatan-perbuatan tidak terpuji tersebut dilakukan dengan suatu kesadaran penuh?

Lain lagi dengan peserta yang berpidato layaknya membaca puisi. Bukannya didiskualifikasi, malahan kembali dimenangkan. Sungguh mengenaskan!!!

Sudah selayakanya mereka langsung didiskualifikasi, bukannya malah dimenangkan, karena konteksnya sudah sangat bergeser. Namun itulah potret dari penjurian dan perlombaan yang terjadi di sekolah dasar tersebut. Yang perlu pembaca garis bawahi disini adalah, pidatonya berbahasa Inggris.

Benarkah mereka begitu mengerti dengan setiap kata yang mereka ucapkan? Bagaimana bisa, jika cara pengucapannya nya pun masih sangat kentara ketidakmampuannya. Saya sering mengamati pandai atau tidakkah seorang dalam membaca dan berdialog dalam bahasa Inggris. Dan sangat mudah untuk memilah siapa yang pandai dan fasih berbicara Inggris dan siapa yang tidak. Cobalah dengan mendengar setiap kali mereka yang berdialog mengucapkan kata “VERY” contohnya Very Much. Jika pengucapan Very terdengar seperti mengucapkan nama Fery, maka orang tersebut masih tergolong kelas sangat pemula dan sama sekali belum mahir berdialog dalam bahasa Inggris. Karena huruf V bukan dibaca fi, namun, Vi dengan penekanan yang cukup dalam.

Ketika melihat pertandingan berlangsung, pertama kali panitia memperkenalkan semua juri yang hadir, yang rata-rata bergelar sarjana bahkan ada yang master. Dan yang lebih hebatnya lagi rata rata dari mereka sarjana dalam bahasa Inggris. Namun yang amat disayangkan, kesemua juri tersebut tidak diberikan waktu untuk memperkenalkan diri mereka atau mengucapkan kata sambutan dalam bahsa Inggris. Akan lebih bijaksana jika mereka yang ditunjuk sebagai juri, bisa memperkenalkan diri mereka masing masing dengan berbahasa Inggris pula dan melakukan sedikit kata sambutan. Sehingga status mereka sebagai juri bukanlah juri OMONG KOSONG yang mungkin saja ternyata tidak fasih berbahasa Inggris.

Sungguh memalukan tentunya jika mereka hanya TONG KOSONG NYARING BUNYINYA. (alias tidak bisa berbicara fasih dalam bahasa Inggris namun diangkat menjadi juri dalampidato berbahasa Inggris ). Bahkan patut dipertanyakan apakah gelar dan ijasah kesarjanaan mereka asli atau hasil manipulasi semata? Walahualam…

Maka sudah sepantasnya mereka yang menjadi juri tergugah hatinya untuk berpikir jernih dan profesional dalam menilai para peserta. Memberikan kritik adalah suatu hal yang perlu dilakukan demi terciptanya generasi penerus bangsa yang unggul. Menjadikan mereka sebagai tunas penerus bangsa yang bermental baja, bukan bermental tempe. Juga menjadikan mereka sebagai generasi penerus bangsa yang jujur dan tidak munafik, berbicara apa adanya tanpa harus pandai bersandiwara.

Jika sebagian mengatakan itu trik, jelas itu adalah trik keblinger yang salah alamat. Trik menangis agar mengundang rasa simpati juri yang mengharu biru? Trik boleh saja dilakukan asalkan jangan meninggalkan akhlak dan jangan membuat suatu manipulasi. Memanipulasi keadaan dan membuat seolah-olah kesedihan bisa diperjualbelikan sedari dini adalah suatu perbuatan hina yang mencermikan kebobrokan pribadi seorang pengajar itu sendiri.

Dan untuk juri, yang kira-kira tidak pantas menjadi juri, lebih baik mundur dengan legowo tanpa harus memaksakan diri sehingga akan nampak kebodohan mereka serta ketidakprofesionalan mereka sendiri di mata masyarakat. Mereka hanyalah sekumpulan manusia tidak berguna yang mengotori sebuah kompetisi yang sudah seharusnya dilaksanakan secara adil. Indonesia harus maju dengan manusia yang berkompeten dan punya malu, sehingga mereka akan mundur tanpa dilengserkan jika mereka memang tidak pantas untuk menduduki suatu jabatan yang berhubungan dengan kemajuan bangsa, dan juga yang berhubungan dengan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang besar. Jika seorang juri bermental tempe, maka pemenangnya pun akan bermental sama dengan jurinya.

Memilih manusia tempe oleh manusia tempe dan untuk manusia tempe.

BERLAKU ADIL SEBAGAI JURI ADALAH SUATU TINDAKAN MULIA YANG MENCETAK MANUSIA BERPRESTASI, BUKAN MALAHAN MENCETAK MANUSIA BERMENTAL TEMPE YANG DAPAT MENGHANCURKAN MENTAL ANAK BANGSA

MENJADI PENDIDIK BUKAN SEMATA UNTUK KEHORMATAN, NAMUN LEBIH TERPUJI UNTUK PENGABDIAN, KARENA GURU ADALAH CERMINAN KEMAJUAN SUATU BANGSA.



Artikel ini ditujuan untuk semua juri yang tidak layak menjadi juri, juri dengan gelar sontoloyo harus diberi sangsi sosial agar mereka sadar bahwa penjurian tidak bisa disangkutkan dengan emosi atau pun "memo titipan".

Artikel ini juga ditujukan untuk anak-anak yang sudah belajar menjadi tunas penerus bangsa yang munafik sehingga pantas bergelar sontoloyo, sadarlah, karena jalan kalian masih panjang untuk bisa menjadi manusia berbudi luhur yang unggul dan jujur. Tidak perlu menuruti semua ajaran dan didikan guru kalian jika ajaran dan didikannya menyesatkan. Diskusikan dulu dengan orang tua atau siapapun yang bisa dimintai saran dan pertimbangannya.

Semoga artikel ini dibaca oleh semua khalayak dan bisa disebarluaskan sehingga kiprah dari juri- juri sontoloyo bisa hilang dari bumi Indonesia….

Salam,
Smile



Baca Selengkapnya ....

ANAK INDIGO 42 ( VERSI VELLYA DAN CAHYANING ' THE LAST EPISODE OF INDIGO" )

Posted by Unknown 1 comments


DILARANG MENCOPAS ARTIKEL INI TANPA IZIN DARI ADMIN.MENGCOPAS TANPA IJIN ADALAH PENISTAAN TERHADAP KARYA ANAK BANGSA….

 
Indigo kali ini dimulai dengan cerita misteri tentang Jembatan Lama Citarum di daerah Cianjur Jawa Barat. Jembatan ini adalah jembatan yang menghubungkan antara Bandung Barat dan Cianjur. Jembatan ini konon katanya memiliki banyak cerita dan sejarah yang penting untuk disimak. Di Jembatan inilah dahulu kala terjadi banyak peristiwa berdarah seperti pemberontakan DI/TII dan pembuangan mayat PETRUS (PENEMBAK MISTERIUS) sekitar tahun 80an.

Kali ini host tayangan Indigo adalah Vannico Soekarno dengan nara sumber seorang gadis belia bernama Vellya yang di claim sebagai seorang “INDIGO”. Ketika ditanyakan apa yang dirasakan oleh Vellya, dengan sigap Vellya mengatakan merasakan hawa yang terasa berat seperti hendak memasuki medan perang, dan sebagai informasi lanjutnya, mereka sudah ditunggu kedatangannya oleh  “ Para Penunggu “ dari jembatan yang penuh misteri itu. Vellya juga menjelaskan bahwa makhluk yang menunggu mereka “SERAM-SERAM”. Ada yang tanpa kepala, ada pula yang mulutnya masih berdarah-darah.

Jembatan yang panjangnya hampir 500 meter ini memiliki keangkeran tepatnya ditengah-tengah dari jembatan tersebut.Entah ilmu dari mana lagi yang mengatakan bahwa ada 4 jenis darah, yaitu, darah merah, darah putih, darah hitam dan darah kuning. Jika darah merah memang benar ada menurut ilmu pengetahuan, demikian juga dengan darah putih, maka yang tak habis terpikirkan adalah darah berwarna hitam dan kuning. Mungkin tipe darah yang disebutkan yang tidak ada dalam kamus dunia ilmu pengetahuan dan hanya merupakan kiasan semata.

Vellya juga menceritakan ada korban Petrus yang sakit hati karena masih juga dibunuh walaupun sebenarnya dirinya telah bertobat, bernama Suprapto berusia sekitar 40 sampai 50 tahun. Dan ketika hostnya mengajak ke sisi lain dari jembatan, Vellya mengatakan bahwa tidak baik untuk berlama-lama disana karena dari bawah tempat itu seperti ada bisikan halus yang menarik agar manusia mau terjun kebawah (daya tarik). Berbeda dengan Vellya, Cahyaning, seorang gadis belia lain yang juga diclaim sebagai indigo mengatakan bahwa di jembatan itu banyak sekali makhluk bergerombol yang hendak menyerang. Ini lah yang menyebabkan kondisi Cahyaning jadi menurun drastis (drop).

Cahyaning juga mengatakan bahwa penelusuran mereka tidak dapat dilanjutkan karena makhluk tak kasat mata itu mengisyaratkan agar mereka segera balik kanan (meninggalkan jembatan itu). Benar saja, setelah selesai mengatakan itu, driver mereka kesurupan.Walau dengan gamblang dikatakan oleh driver itu sendiri bahwa kondisinya memang tidak fit ketika pergi ke tempat yang mereka kunjungi sekarang. Vellya menjelaskan bahwa driver itu dirasuki oleh penunggu dari daerah tersebut yang berwujud makhluk tanpa kepala.

Setelah Driver berhasil disembuhkan dari kerasukan, maka giliran Cahyaning sendiri yang kembali diserang dengan merasakan mual-mual. Vellya lalu mencoba untuk mengobati Cahyaning juga.

Cerita dilanjutkan dengan bertanya kepada kedua narasumber, Vellya dan Cahyaning. Vellya menuturkan bahwa dia baru mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan alias INDIGO baru dua bulan belakangan ini. Sedangkan Cahyaning sejak duduk di bangku SMA kelas dua. Menurut penuturannya lagi, yang mengetahui bahwa dirinya adalah “indigo” adalah guru BP nya sendiri.

Namun dari cerita singkat keduanya, mereka beraliran interdimensional, yang konon katanya peka terhadap segala sesuatu yang berrhubungan dengan dunia suprnantural.

Satu dari mereka menceritakan mendapatkan vision alias penglihatan terhadap suatu mimpi. Adapun mimpinya ternyata menjadi kenyataan di kemudian harinya. Banyak kejadian supranatural yang dialaminya seperti bisa melakukan mediumisasi. Walaupun Vellya lebih bisa “mendengar” ketimbang “melihat”. Berbeda dengan Cahyaning yang lebih bisa “melihat” penampakan dari makhluk tak kasat mata daripada mendengar seperti rekannya Vellya.

Cahyaning sendiri sebenarnya enggan menceritakan “kemampuannya” kepada orangtua nya karena selalu mendapat tanggapan yang sama, bahwa semua nya hanya halusinasi saja. Berbeda dengan Cahyaning, Vellya malah sempat merasa tertekan (depresi) karena merasa dibullying dengan kemampuan yang dimilikinya. Saat itu Vellya sendiri belum sadar akan kemampuannya. Yang ada di pikirannya hanya mengakhiri hidupnya sendiri.Sungguh suatu dampak yang sangat besar dalam kehidupannya. Vellya mengganggap hidupnya tak berarti lagi disekeliling orang yang terus membicarakan tentang dirinya.

Ketika ditanyakan adakah pengalaman menarik yang berkesan, Cahyaning menyahut dengan menyebutkan “MERAPI”. Dia menuturkan telah bermimpi bahwa Merapi akan meletus, dan mimpinya tersebut telah didapatinya dua minggu sebelum Merapi benar-benar meletus. Dan Cahyaning pun sudah merasakan bahwa Mbah Marijan pun akan meninggal pada kejadian Gunung Meletus itu.

Mereka juga menceritakan ketika mereka berdua sedang bersama, salah satu dari mereka kerasukan. Dan arwah yang merasuk adalah arwah nenek Vellya sendiri. Sungguh suatu keajaiban, karena arwah orang meninggal bisa masuk ke tubuh manusia yang belum meninggal.

Kemudian cerita dilanjutkan dengan menyusuri salah satu waduk terbesar di Jawa Barat daerah Cianjur bernama Waduk Cirata.Ketika ditanyakan apa yang mereka lihat di sekitar waduk mereka mengatakan bahwa di tempat itu masih banyak arwah penasaran.

Dan ketika ditanyakan bahwa disekitar waduk itu ada daratan yang disebut Leuwih Mok, yang konon katanya ketika nelayan menebarkan jalanya dan hendak mengangkat jalanya, maka nampak bangunan megah keluar begitu saja. Cahyaning membenarkan bahwa hal itu memang terjadi. Hanya saja, para penunggu di tempat tersebut sudah memberi masukan kepada Cahyaning untuk tidak menceritakan lebih mendalam akan kejadian yang berbau supranatural tersebut karena makhluk halus yang berada di sana tidak menyetujuinya.

Ketika dilanjutkan ke tengah danau, dan ketika mereka sudah berada di sebuah daratan pun mereka berdua kewalahan karena mendapat begitu banyak serangan dari makhluk halus yang tidak suka dengan kehadiran mereka disana. Itulah tayangan Indigo yang mungkin saya bahas untuk terakhir kalinya, karena acaranya mungkin sudah tak ada lagi. Yang terakhir adalah tayangan dari Anggun, sorang gadis indigo yang dulu sudah pernah diprofilkan.

Sekarang giliran smile untuk membahasnya, dengan penalaran, logika, akal sehat dan keimanan kepada Tuhan Yang Esa.

Akhirnya setelah lama mencari tahu dan terus belajar akan teori dari INDIGO, smile akhirnya lebih menitik beratkan bahw Indigo hanya suatu ilmu yang membahas tentang “KELAINAN” dari seorang manusia mengenai bakat dan kemampuannya yang diluar rata-rata. Semua hal yang berbau supranatural tidak bisa sama sekali dibenarkan, karena semuanya adalah suatu kebohongan dan diceritakan dengan sebegitu dramatik sehingga nampak benar.

Tak ada kehebatan supranatural yang seharusnya dipertontonkan, karena indigo pada hakekatnya hanya sebuah istilah yang mengkotak-kotakan manusia yang satu dari manusia yang lain. Mereka dikategorikan memiliki kelebihan dibandingkan manusia normal lainnya. Menurut saya, seseorang bisa mempunyai kelebihan dan kemampuan luarbiasa  karena faktor genetika maupun faktor kebetulan. Semuanya kembali kepada kebesaran Tuhan Yang Esa.

INDIGO

BUKANLAH :Manusia super dan sakti yang diutus Tuhan.
Mereka hanya manusia yang memiliki kelebihan dalam hal hal yang kompleks.
Mereka hanyalah manusia yang punya bakat lebih dan cepat menerima masukan dan ilmu pengetahuan, maupun manusia yang sensitif dengan alam.
 

INDIGO tidak bisa sama sekali dilihat karena mereka beraura nila (nila adalah indigo dalam bahasa Inggris)
INDIGO hanya istilah yang diplintir sedemikian rupa yang berdasarkan alat buatan manusia yang berbasis teknologi. Dengan begitu sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena yang dibicarakan dan diteorikan justru sesautu yang bertolak belakang dengan teknologi itu sendiri.

Jadi, apa itu INDIGO? Indigo adalah warna. Bukan sebutan untuk manusia apapun yang memiliki kemampuan super. Banyak manusia jenius yang tidak dikategorikan sebagai indigo, karena memang indigo bukanlah apa-apa dan Indigo bukanlah suatu kebenaran yang diakui dan disahkan sebagai kebenaran yang berlaku di dunia layaknya hukum relativitas.

Untuk itu, mereka yang merasa indigo, tentu saja telah termakan oleh teori tidak bertanggung jawab yang menyesatkan. Mereka hanya manusia biasa yang mungkin memiliki suatu pandangan yang berbeda dengan manusia lainnya. Kelebihan melihat makhluk tak kasat mata tidak bisa dibenarkan dalam ajaran Nasrani maupun ajaran Islami. Bahkan yang menyedihkan, mereka tidak tahu jika mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak tahu dengan apa yang mereka tahu.

Mereka yang katanya adalah INDIGO sungguh-sungguh telah keluar dari jalur keimanan bagi yang merasa dirinya Kristen atau Muslim. Cobalah tengok kembali kitab suci Injl dan Kitab Suci Alquran. Tuhan tidak mewahyukan mereka sama sekali dalam kitab suci yang merupakan kitab suci dengan jumlah jemaat terbanyak di dunia itu.

Mereka juga terus terimajinasi dengan sesuatu yang tidak ada, dan sungguh tidak nyata. Mereka tidak bisa mengusir kerasukan karena yang katanya dirasuk seratus persen tidak pernah kerasukan. Mereka juga tidak bisa mempublikasikan semua ramalan, penglihatan,vision dan apapun namanya karena semua opini mereka muncul setelah kejadian atau suatu tragedi “TELAH” terjadi, Bukan “SEBELUM” tragedi terjadi.

Semuanya nampak mengada-ngada. Sampai usia saya hampir setengah abadpun tidak pernah melihat makhluk tak kasat mata, apalagi arwah penasaran. Kuburan dan hutan sudah saya jelajahi, rumah kosong dan gedung tua pun tak luput dari petualangan saya, namun tidak pernah saya temukan keberadaan makhluk halus seperti yang digembar-gemborkan mereka yang katanya ahli dalam hal supranatural.

Saya percaya adanya setan, karena saya percaya adanya Tuhan, namun saya tidak percaya dengan segala sesuatu yang tidak difirmankan dalam kitab suci baik Injil maupun Alquran. Karena semua cerita yang supranatural yang telah diceritakan tidak bisa sama sekali dibenarkan karena memang TIDAK BENAR dan terlalu mengada-ngada.

Semua mahluk halus ada karena Tuhan pun ada, namun tidak untuk menampakkan diri, melainkan hanya merayu manusia untuk berbuat dosa, dan menentang Tuhan. Mereka(setan/iblis/jin) tidak maha kuasa dan tidak maha tahu. Mereka tidak sakti sejak mereka dibiarkan berkeliaran di bumi. Mereka harus diperangi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, bukan dipercayai karena mereka bukan makhluk yang sempurna. Berbeda halnya dengan manusia yang sempurna dan mulia.

Masih banyak waktu untuk bertobat. Toh dengan tidak mengatakan diri indigo, hidup tetap berjalan dan tentunya kehidupan terus berlanjut. Sayangkan kepandaian yang jadi sia-sia karena terus menerus membicarakan suatu hal yang sama sekali tidak pernah ada. Semua penyihir, dukun, orang sakti yang benar - benar sakti hanya ada di film dan dongeng serta cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tidak MAHA KUASA, dan bukan apa-apa.

Manusia, yang dikatakan makhluk Tuhan paling sempurna dan paling mulia, sudah seharusnya tidak mempercayai bahkan menyembah makhluk yang masih termasuk ciptaan Tuhan juga. Karena bukankah jika seseorang hendak berguru tentunya kepada guru yang paling hebat dan paling sakti? Untuk apa menjadi penyembah sia-sia karena menyembah bukan pada yang terutama, namun hanya pada ciptaan dari pencipta?

INDIGO, TIDAK ADA.
MEREKA BUKAN UTUSAN TUHAN YANG KATANYA BERJIWA TUA.
MEREKA BUKAN REINKARNASI DARI SIAPAPUN JUGA.

BERTOBATLAH, KARENA HARI PENGHAKIMAN SUDAH DIUJUNG TANDUK…..DIA AKAN DATANG MENGADILI SEMUA KEHIDUPAN MANUSIA.

Percaya atau tidak percaya, mereka seolah terobsesi dengan ilusi dan sugesti yang akhirnya membuat celah bagi para “makhluk jahat” untuk terus memanipulasi pikiran manusia sehingga mereka seperti memiliki ‘GIFT” namun sebenarnya mereka sama seperti manusia lainya yang normal.

Jika kita percaya pada GIFT atau pemberian yang diberikan sang Pencipta kepada manusia tertentu, maka semua firman yang tertuang dalam kitab suci yang tentu saja kita imani sebagai benar dan amin menjadi basi dan tidak konsisten lagi. Berbeda dengan ketika di-adakannya doa bersama, atau tabliq akar, yang tentu saja mengundang kehadiran Sang pencipta sendiri, sehingga segala mukjizat tentu saja dapat terjadi.

Perhatikan tayangan lainnya yang melakukan mediumisasi memanggil makhluk astral,bukankah nampak sekali dramatisasinya? Bagi pemuka agama yang benar-benar memahami kitab suci mereka tentunya akan tertawa melihat tayangan yang benar-benar keblinger, dan membuat banyak kebohongan publik tersebut.

Namun karena semuanya berkiprah dalam dunia yang tidak real. Maka tak ada satu pun kajian hukum yang dapat dibebankan kepadanya. Hanya satu pengadilan yang dapat mengurus semua kasus penyelewengan tersebut. Mau tahu pengadilan apakah itu?

Tentu saja hanya satu. Pengadilan Akhirat nanti.

Banyak yang berpikir bahwa semua yang didapatkan anak-anak yang diclaim sebagai indigo adalah sebuah GIFT dari sang pencipta. Itu menurut persepsi mereka tanpa dilandasi dari kebenaran kitab suci Injil dan Alquran.

Jika mereka yang membuat statement itu membaca lebih mendalam tentang kitab suci dari masing-masing kepercayaan mereka akan kedua agama terbesar didunia itu, maka tentunya mereka akan segera menganulir semua statement mereka karena memang sangat bertolak belakang dengan semua ajaran dari kitab Suci tersebut.

Jika mereka percaya arwah gentayangan lalu apa istilah alam barzah bagi mereka? Jika mereka percaya ada hantu gentayangan, lalu apa istilah alam penantian bagi mereka?

Jika mereka tidak tahu lebih baik tidak beropini, karena opini yang tanpa dilandasi dari sesuatu kebenaran absolut yaitu kitab suci, akan menjadi suatu opini warkop yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Namun celakanya, obrolan warkop yang diturunkan dari generasi ke generasi tersebut lebih dipercayai sebagai suatu kebenaran daripada ajaran kebenaran itu sendiri (Kitab Suci).

Lalu bagaimana dengan penyembuhan yang dilakukan tak sedikit dari anak-anak yang di cliam sebagai indigo tersebut? Menurut kita yang percaya kepada kebesaran Tuhan tentunya kesembuhan itu bukan datang dari mereka,namun datang dari Tuhan karena belas kasihan Tuhan sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Pemurah dan Maha Penyembuh. Atau ada yang berani mengatakan kesembuhan itu datang dari mereka dan bukan datang dari Tuhan?

Apakah melalui mereka? Doa orang banyak akan didengar Tuhan, karena Tuhan Maha Pendengar. Tuhan tidak pernah Tidur dan sangat mengasihi semua manusia didunia ini. Bisa melalui mereka jika mereka dekat dengan Tuhan seperti para pengerja di dalam agama Kristen seperti para pendoa, pelayan Tuhan, Hamba Tuhan, baik pendeta, pastur, biarawati. Dan juga bisa melalui pendoa, ustads, kyai, dalam ajaran Islam. Kesembuhan diberikan melalui mereka untuk menunjukkan kebesaran Tuhan.

Sebenarnya setiap manusia memmpunyai hubungan pribadi dengan Tuhan nya masing-masing, jika mereka taat dan mempunyai iman yang kuat, berdoalah sendiri maka Tuhan pun akan memberi apa yang kita minta asalkan kita beriman kepadanNya dengan segenap hati kita.

Coba renungkan kalimat ini baik-baik.
MINTA LAH KEPADA TUHAN SESUATU YANG TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA, SESUATU YANG IMPOSSIBLE, SESUATU YANG TAK PERNAH KITA BAYANGKAN TERJADI  bagi kehidupan kita,karena Tuhan itu MAHA SEGALA-GALANYA. Tuhan lah yang membuat semua yang TIDAK MUNGKIN menjadi MUNGKIN melalui MukjizatNya.

JANGAN TAKUT UNTUK MENCOBA, karena hanya iman percaya lah yang membuat semua mukjizat terjadi bagi kehidupan kita, bukan karena kehebatan manusia, namun karena belas kasihan Tuhan pada semua manusia ciptaanNya.

Semoga banyak yang tersadar dan terbuka pikirannya setelah membaca tulisan ini, karena hanya perkataan yang telah disuratkan dan disiratkan dalam kitab suci lah yang patut kita percayai sebagai suatu standar kebenaran bagi keimanan dan akal sehat kita.

By smile
5 Desember 2012
The Last episode Of INDIGO

Baca Selengkapnya ....
ricky pratama support eva's blog - Original design by Bamz | Copyright of Tentang Indonesia.